Bagaimana Membangun Budaya Perusahaan

Linggar Arum
Linggar Arum
October 25, 2021
Bagaimana Membangun Budaya Perusahaan

Budaya perusahaan adalah nilai-nilai yang dianut, dijalankan, dan dipertahankan di salam sebuah perusahaan. Identitas suatu perusahaan juga bisa dilihat dari budaya perusahaan atau company culture

Budaya perusahaan menjadi cerminan sekaligus wujud dari visi, nilai, lingkungan kerja hingga menjadi acuan bagaimana interaksi antar anggota tim dilakukan. 

Namun demikian, budaya perusahaan juga menjadi jendela bagaimana dunia luar melihat dan mengenali perusahaan. Dengan kata lain, hal ini juga yang membentuk persepsi publik terhadap perusahaan. 

Artinya, budaya perusahaan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap produktivitas maupun suasana kerja dalam suatu perusahaan. Bahkan sejak proses perekrutan pun company culture sudah bisa dirasakan.

Selain itu, beberapa alasan lain mengapa budaya perusahaan perlu dibangun

Mengapa perlu memiliki dan membangun budaya perusahaan?

  • Budaya perusahaan menentukan bagaimana penilaian karyawan terhadap perusahaan
  • Bagaimana perusahaan berjalan
  • Pesan seperti apa yang akan disampaikan kepada pelanggan
  • Menjadi ciri khas dan ‘persona’
  • Bagaimana orang luar menilai perusahaan
  • Reputasi dan branding

Langkah membangun budaya perusahaan

Mulai dari founder 

Ketika seorang founder memutuskan untuk memulai sebuah bisnis, mendirikan perusahaan, ia memulai dari nilai-nilai yang dipegangnya dan juga pengalamannya. Dengan begitu, ia bisa membuat struktur yang diinginkannya pada perusahaan baru ini.

Sebagai founder, Anda bisa mulai mengidentifikasi nilai-nilai penting yang Anda pegang. Dari sini kemudian baru terlahir visi perusahaan dan juga budaya perusahaan. 

Merekrut dengan tepat

Budaya perusahaan bisa terealisasi dengan baik ketika karyawan yang ada di dalamnya menjalankannya. 

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, budaya perusahaan seperti kepribadian perusahaan. Kita tahu bahwa kepribadian bukan sesuatu yang bisa diubah dengan mudah seperti membalik telapak tangan. 

Salah satu yang bisa diupayakan adalah merekrut kandidat yang memiliki kepribadian sesuai dengan budaya yang ada dalam organisasi, bukan hanya fokus pada keahlian kerjanya saja. 

Merekrut kandidat yang tidak cocok dengan budaya kerja bisa menjadi sesuatu yang merugikan. Pastikan kandidat yang direkrut adalah ia yang punya visi yang sama dengan perusahaan dan siap bekerja keras untuk mewujudkannya.

Visi

Ketika mendirikan perusahaan, sebagai founder, Anda tentu punya berbagai visi untuk perusahaan. Hal ini mencakup 

Branding

Di mana keberpihakan brand Anda? Masalah apa yang coba diselesaikan oleh perusahaan atau produk yang Anda tawarkan? Apa perubahan hidup yang dialami oleh pelanggan setelah menggunakan produk Anda?

Meskipun terdengar terlalu idealis, hal ini penting sekali untuk memudahkan perusahaan membangun kepribadian dan reputasinya. Selain itu, ini juga bisa menjadi faktor pembeda penting dengan kompetitor. 

Di blog Vantage Circle, salah satu contoh yang menarik adalah Coca-Cola di mana menggunakan branding bahwa produknya bisa menyegarkan badan, perasaan dan jiwa. Hal ini kemudian menginspirasi pada momen optimis, menciptakan nilai dan membuat perbedaan dengan produsen lain. 

Hadirkan cerita dan keberpihakan yang lebih besar dari produk Anda, inilah yang akan menjadi inspirasi dan juga tentu saja branding.

Tingkatkan kepuasan karyawan

Budaya perusahaan yang baik adalah yang bisa membuat karyawan merasa senang dan puas. Dalam hal ini, penting untuk memastikan karyawan merasa puas dengan pekerjaannya dan senang bekerja dengan Anda. 

Salah satu hal yang bisa diinisiasi adalah melakukan survei kepuasan internal perusahaan. Dari sini, company culture yang berjalan bisa dianalisis dan juga tentu saja diperbaiki untuk meningkatkan tingkat kepuasan karyawan.

Perhatikan kebutuhan karyawan

Perusahaan tanpa karyawan tentu tidak sempurna. Karyawan ibarat kerangka yang menyusun perusahaan. 

Betul bahwa budaya perusahaan digagas oleh founder namun dalam perjalanannya tidak bisa dilepaskan dari interpretasi dan praktik dari masing-masing di individu dalam organisasi, termasuk karyawan. 

Kebutuhan di sini, tidak terbatas kompensasi secara finansial saja. Hal ini termasuk mendengarkan karyawan dan juga menghargai mereka. Hal-hal kecil yang bisa dilakukan seperti tidak lupa mengucapkan terima kasih, maaf dan tolong. 

Selain itu, bisa juga menunjukkan perhatian di hari-hari penting mereka seperti hari ulang tahun atau anniversary-nya bergabung ke perusahaan.

Tidak lupa untuk memberikan dukungan untuk pertumbuhan diri dan karier karyawan juga bisa menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk memperhatikan karyawan. Ketika karyawan tumbuh, di saat yang sama perusahaan juga bisa tumbuh. 

Apple menjadi contoh perusahaan yang berhasil mengembangkan budaya perusahaannya

Dalam sebuah wawancara Steve Jobs menyebutkan bahwa salah satu budaya perusahaan yang selalu dipegang sejak berdiri adalah kolaboratif. Masing-masing anggota tim bertanggung jawab atas layanan dan produk yang berbeda, namun mereka semua saling percaya. 

Bicara tentang Apple, kita juga tentu sudah memiliki persepsi tentang perusahaan yang satu ini. Bisa dikatakan branding yang dibangun Apple berhasil membuatnya terlihat menonjol di antara kompetitornya. 

Hal ini menunjukkan bahwa company culture adalah apa yang digagas oleh founder namun menjadi sistem yang dijalankan oleh seluruh anggota tim hingga kemudian juga bisa tercermin dari apa yang dipahami oleh publik. 

Manfaat memiliki budaya perusahaan

Dengan memiliki budaya perusahaan yang baik otomatis juga akan mendorong terwujudnya lingkungan kerja yang baik

Berikut ini adalah beberapa manfaatnya:

Kinerja karyawan

Budaya perusahaan seperti keterbukaan, kepercayaan dan saling menghargai bisa membantu meningkatkan kinerja karyawan. 

Misalnya, lingkungan perusahaan terbuka dengan masukan dan saran perbaikan tentu akan membantu percepatan perbaikan kinerja perusahaan juga. 

Termasuk di dalamnya bagaimana cara perusahaan memberikan pengakuan pada karyawan, baik yang berupa kompensasi finansial maupun non finansial bisa memotivasi karyawan memberikan performa terbaiknya. 

Kebahagiaan karyawan

Misalnya, salah satu yang menjadi alasan kepuasan kerja karyawan sekarang adalah work-life balance

Ketika perusahaan bisa mengembangakan company culture yang memfasilitasi terbangunnya lingkungan kerja yang seperti ini maka akan menjadi penilaian positif bagi karyawan. 

Hal ini juga pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan dengan angka turnover rate yang terkendali.

Penting juga dicatat bahwa kebutuhan untuk mengakomodasi karyawan, tidak terbatas pada kompensasi finansial. Ketika kita menyebut budaya perusahaan, kita sebenarnya sedang merumuskan kompensasi non finansial untuk karyawan menjadi lebih nyaman dan lebih produktif. 

Keterlibatan karyawan

Atau yang sering kita kenal dengan employee engagement menjadi salah satu topik yang saat ini paling banyak dibicarakan. 

Ada tiga faktor yang menjadi faktor penting untuk meningkatkan keterlibatan karyawan yaitu komunikasi, kesejahteraan dan komunikasi. Ketiga faktor ini, sebisa mungkin dikembangkan secara paralel sehingga bisa juga membantu mendorong kinerja karyawan lebih baik. 


Konsultasikan kebutuhan rekrutmen Anda GRATIS!
Mulailah perjalanan perekrutan Anda bersama kami hari ini dengan konsultasi gratis. Cukup isi formulir dan tim Glints akan segera menghubungi Anda.