8 Perubahan Tenaga Kerja di Masa Depan Akibat Pandemi

Anggita Dwinda
Anggita Dwinda
February 17, 2021
8 Perubahan Tenaga Kerja di Masa Depan Akibat Pandemi

©️ Unsplash

Pandemi COVID-19 menjadi wabah dengan dampak paling luas dan cepat serta mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal pekerjaan. Meski vaksin terus dikembangkan dan pandemi mungkin akan mereda dalam satu atau dua tahun ke depan, situasi di tempat kerja diperkirakan tidak akan seperti semula. Hal ini tentu akan berdampak pula pada kebutuhan tenaga kerja.

Perusahaan dan karyawan telah beradaptasi dengan cara-cara baru yang akan menjadi kebiasaan normal. Pandemi juga mengubah masa depan ketenagakerjaan, terutama menyangkut Generasi Z yang akan mendominasi angkatan kerja dalam beberapa tahun mendatang.

Berikut beberapa perubahan tenaga kerja yang akan terjadi di masa depan.

Bekerja remote menjadi normal

Bekerja dari rumah, teleworking, atau remote working yang di masa pandemi bertujuan untuk mencegah transmisi virus lewat klaster perkantoran, akan berubah menjadi kebiasaan normal di masa depan. Meski tidak bisa diterapkan untuk semua jenis pekerjaan, merekrut karyawan dan menyeleksi secara online, menawari kontrak lewat e-mail, dan mempekerjakan karyawan dari jauh akan menjadi hal normal.

Tenaga kerja masa depan lebih menginginkan fleksibilitas ini untuk mengurangi stres dan memenuhi kebutuhan work-life balance. Survei firma audit dan konsultan global Deloitte terhadap 9.100 milenial dan Gen Z di 13 negara terkait dampak COVID-19 pada 2020 menemukan bahwa lebih dari 60% ingin lebih sering bekerja secara remote bahkan setelah pandemi berakhir.

Ketergantungan teknologi

Gen Z adalah digital native yang sangat bergantung pada teknologi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bekerja. Mereka akan memilih perusahaan yang menerapkan teknologi digital dan otomatisasi dalam operasional dan proses kerja, dan meninggalkan perusahaan dengan cara kerja tradisional.

Masih menurut survei Deloitte di atas, 57% Gen Z memilih menggunakan video conference dalam pekerjaannya di masa depan ketimbang harus pergi ke tempat kerja.

Sementara, menurut studi perusahaan teknologi Dell Inc, 80% dari Gen Z mendambakan bekerja dengan teknologi mutakhir. Sebanyak 91% mengaku bahwa faktor teknologi akan memengaruhi pilihan mereka terhadap tawaran pekerjaan.

Pendidikan non-konvensional

Pandemi telah memaksa ratusan juta siswa di dunia belajar secara virtual. Sementara, perguruan tinggi masih sulit menggelar kuliah tatap muka untuk mendapatkan gelar sarjana reguler empat tahun. Sekolah dan kuliah online yang dijalani Gen Z saat ini merupakan pendidikan non-konvensional yang akan berpengaruh pada latar belakang akademis mereka.

Situasi ini akan mengubah perspektif tentang tenaga kerja masa depan, yakni ketika perusahaan akan lebih terbuka menerima karyawan dengan pendidikan non-konvensional. Sejumlah pekerjaan formal mungkin tidak lagi mensyaratkan gelar akademis seperti yang diperoleh generasi sebelumnya.

Memasuki dunia kerja lebih awal

Akibat pandemi, Gen Z menjadi sangat terbuka untuk bekerja tanpa menunggu mendapatkan gelar dari kuliah online. Mereka memasuki dunia kerja dengan pengalaman yang lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya, namun lebih fokus untuk menghasilkan uang.

Sebaliknya, perusahaan tidak akan terlalu memedulikan gelar akademis sebagai syarat bekerja, melainkan pada keterampilan, penguasaan teknologi digital, serta kemauan mereka untuk belajar dan berkembang. Dalam seleksi rekrutmen, perusahaan kemungkinan akan lebih menekankan pada tes keterampilan dan wawancara ketimbang syarat ijazah pendidikan.

Kebutuhan pelatihan dan pengembangan

Dengan minimnya pengalaman tersebut, tenaga kerja masa depan membutuhkan perusahaan yang menawarkan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan serta kompetensi mereka. Jadi, program pengembangan tenaga kerja akan menjadi benefit yang sangat bernilai dalam tawaran kerja perusahaan.

Menurut temuan Deloitte, 68% responden menginginkan dukungan pelatihan dan pengembangan skill, coaching, dan mentoring, untuk karier jangka panjang mereka. Jika sebelum pandemi, Gen Z lebih memikirkan keinginan untuk berpindah kerja dalam dua tahun, maka di tahun-tahun mendatang mereka ingin bertahan di perusahaan lebih lama.

Peduli pada sustainability

Pandemi telah mengubah pandangan tenaga kerja di masa depan tentang isu lingkungan dan sosial. Lockdown, pembatasan sosial, dan karantina, memberi dampak positif bagi lingkungan dengan mengurangi polusi dan membuat langit cerah. Gen Z meyakini perubahan iklim sedang terjadi dan paling besar disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti industri.

Itu sebabnya mereka menginginkan perusahaan yang punya kepedulian terhadap pembangunan berkelanjutan. Data Deloitte menyebutkan 70% Gen Z ingin tempat kerja mereka memiliki dampak positif bagi komunitas lokal, sedangkan 63% ingin industri mereka mengurangi dampak terhadap lingkungan.

Batas kehidupan dan pekerjaan semakin kabur

Dengan sistem remote working, karyawan membawa pekerjaan ke rumah, sehingga menyebabkan batas antara pekerjaan dan kehidupan mereka menjadi kabur. Rumah berubah menjadi ruang hidup yang menyatu dengan tempat bekerja.

Tenaga kerja masa depan tidak lagi memahami work-life balance sebagai pemisahan pekerjaan dan kehidupan secara seimbang, tetapi menganggap pekerjaan merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri.

Tempat kerja yang bebas stres

Pandemi ikut membentuk Gen Z menjadi generasi yang mudah cemas dan khawatir. Mereka menginginkan lingkungan kerja yang aman, nyaman, inklusif, dan tidak menyebabkan stres. Data Deloitte menyebutkan 71% Gen Z ingin tempat kerja mereka berkeragaman (diverse), sedangkan 69% butuh lingkungan kerja yang menyemangati dan menginspirasi.

Karena itu, perusahaan yang kompetitif di masa depan adalah yang menawarkan tempat kerja yang bebas stres, inklusif, menghargai kreativitas dan inovasi, serta memberi tempat untuk berpendapat tanpa takut atasan.

Dapatkan tenaga kerja milenial dan Gen Z berkualitas dengan bantuan platform rekrutmen online

Platform rekrutmen TalentHunt dapat membantu Anda merekrut milenial dan Gen Z yang tepat untuk peran yang Anda butuhkan secara efisien. Lebih dari 30.000 perusahaan telah menggunakan TalentHunt untuk menemukan bakat-bakat muda terbaik.

Anda bisa mulai merekrut di https://talenthunt.glints.id untuk mendapatkan akses ke database (talent pool) Glints yang menyediakan lebih dari 130.000 top talent berpengalaman yang telah dikurasi dan siap direkrut.

Proses rekrutmen kami menggabungkan tim berdedikasi dan teknologi screening berbasis algoritma AI yang cepat dan bebas bias. Kami hanya merekomendasikan kandidat terbaik hasil seleksi untuk Anda wawancarai.

TalentHunt adalah layanan bergaransi 90 hari. Apabila Anda tidak puas dengan kinerja kandidat yang kami rekomendasikan, tim kami akan mencari penggantinya gratis untuk Anda. Jaminan ini melindungi Anda dari risiko salah rekrut kandidat dan pemborosan biaya.

Merekrut dengan TalentHunt cukup mudah. Tak ada biaya di awal, dan tak ada biaya pembatalan. Anda hanya membayar biaya rekrutmen cost per hire jika telah mendapatkan kandidat sesuai kriteria peran yang Anda cari.

(Penulis: Ari Susanto)

Platform Rekrutmen Online - Job Portal Gratis - Headhunter Indonesia | Glints

Bergabung dengan Komunitas untuk Perusahaan!
Berlangganan newsletter kami untuk menerima semua berita dan penawaran terbaru kami yang dikirimkan langsung ke email Anda.