Fenomena The Great Resignation, Bagaimana di Indonesia?

Vania
Vania
January 7, 2022
Courtesy of Unsplash

Sejak pandemi COVID-19 menjungkirbalikkan dunia, termasuk dunia kerja, para profesional di Amerika Serikat berbondong-bondong resign atau mengundurkan diri dari tempat mereka bekerja. Jumlahnya, berdasarkan survei McKinsey, bahkan hingga lebih dari 19 juta karyawan sejak April 2021.  Setelah mengetahui definisinya, bagaimana fenomena The Great Resignation di Indonesia? Apakah para tenaga profesional di Indonesia juga merasa perlu untuk resign dari pekerjaan mereka? 

Alasan Fenomena The Great Resignation 

Fenomena resign atau mengundurkan diri secara massal yagn dialami dunia kerja di Amerika Serikat, diduga dipengaruhi oleh pandemi. Dengan adanya isolasi dan swakarantina, para pekerja mempunyai lebih punya banyak waktu untuk berpikir, merenung, dan mendefinisikan ulang kehidupan serta pekerjaan mereka. 

Terutama bagi mereka yang juga menjalani peran ganda sebagai karyawan dan ibu, misalnya. Dengan keharusan Work From Home (WFH) sambil mengurus rumah dan menemani anak sekolah, tidak heran melihat banyak pekerja perempuan yang memutuskan untuk mencari pekerjaan yang tidak mengganggu waktu berssama keluarga.

Ditambah lagi, dengan mulai terbiasanya bekerja secara remote, tentu pekerja akan berpikir ulang untuk tetap bekerja di perusahaan yang memiliki kebijakan Work From Office (WFO). Jika pekerjaan tetap dapat selesai dengan baik walau dikerjakan dari rumah, mengapa mereka harus menerjang kemacetan dan menghabiskan berjam-jam di jalan?

Apakah The Great Resignation Relevan di Indonesia?

Lantas, bagaimana fenomena ini di Indonesia? Apakah pekerja profesional Indonesia juga terpantau ramai-ramai resign? 

Menurut pengamat ketenagakerjaan Payaman Simanjuntak seperti dikutip dari Kompas.com, The Great Resignation tidak akan terjadi di Indonesia. Menurut beliau, perbedaannya terletak dari fasilitas jaminan sosial yang disediakan negara. Di Indonesia sendiri, belum ada jaminan yang dapat menyokong kehidupan para pegawai yang mengundurkan diri.

Meski demikian, hasil survei Glints yang diikuti oleh 1.693 responden menunjukkan para pekerja semakin selektif dalam memilih perusahaan sasaran mereka bekerja, dan pengaturan kerja (working arrangement) menjadi salah satu faktor penentu besar. Sebanyak 43% pekerja menyebut mengapresiasi sistem jam kerja yang fleksibel ketika mempertimbangkan posisi baru. 

Kemungkinan untuk bekerja dari jarak jauh dianggap penting bagi 26% pekerja. Hari kerja yang dipadatkan juga menjadi daya tarik bagi 11% lainnya, seperti tercatat dalam ebook Tren dan Panduan Gaji 2022.

Hal yang Dapat Perusahaan Lakukan Meresponi The Great Resignation

Meski fenomena The Great Resignation tidak dialami para profesional di Indonesia, penting bagi perusahaan untuk meningkatkan employee engagement agar menurunkan turnover rate karyawan. Ada beberapa cara yang dapat perusahaan lakukan untuk mempertahankan talenta-talenta terbaik di perusahaan, yaitu sebagai berikut. 

Mengadakan stay interview

Selain mengadakan exit interview untuk mendengar umpan balik dari karyawan seputar pengalamannya dalam bekerja, Anda juga dapat mengadakan stay interview. 

Menurut Forbes, jika exit interview dilakukan bagi karyawan yang memutuskan untuk mengundurkan diri, penting juga untuk mewawancarai karyawan yang memutuskan tetap berkontribusi bagi perusahaan.Jjika exit interview umumnya dilakukan dengan HR, stay interview dapat dilakukan dengan manajer atau supervisor. Kesempatan ini dapat dimanafaatkan untuk mendiskusikan hal yang berjalan baik dan tidak berjalan baik di perusahaan menurut pendapat para karyawan sendiri.

Sebaiknya, stay interview ini secara berkala, bukan hanya satu kali. Pastikan juga membahas hal-hal lain selain lingkup kerja karyawan, namun juga capaian profesional individu secara lebih umum.

Melakukan pelatihan bagi karyawan 

Tercatat pada laporan 2017 Workforce Learning Report dari LinkedIn, 93% karyawan menyatakan bahwa tingkat loyalitas mereka terhadap perusahaan akan meningkat jika mereka merasa perusahaan tersebut juga peduli terhadap perkembangan karier mereka.

Selain untuk mempertahankan karyawan, menyediakan pelatihan bagi karyawan lewat Learning & Development juga lebih rendah dari segi biaya. Gallup mencatat bahwa biaya untuk merekrut karyawan baru dapat mencapai 50% dari besaran gaji tahunan mereka. Belum lagi memperhitungkan waktu dalam mencari kandidat yang tepat, mempersiapkan rangkaian onboarding serta melewati masa-masa kandidat baru tersebut menyesuaikan diri. Tentu, mempertahankan karyawan lebih efisien dari banyak faktor ketimbang merekrut kandidat baru.

Libatkan karyawan dalam pengambilan keputusan

Peneliti menemukan kecenderungan konsumen untuk lebih menghargai suatu produk ketika mereka juga menginvestasikan waktu, energi, dan kreativitas mereka atas produk tersebut, atau yang dikenal dengan sebutan IKEA effect. 

Prinsip ini, juga dapat diterapkan ke employee engagement. Jika karyawan dilibatkan dalam membangun organisasi, sense of belonging karyawan pada perusahaan menjadi lebih tinggi. Hal ini dipercaya dapat membuat karyawan bertahan di perusahaan. Keterlibatan karyawan yang dimaksud dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari budaya perusahaan, proses kerja, inovasi produk, atau strategi.


Bergabung dengan Komunitas untuk Perusahaan!
Berlangganan newsletter kami untuk menerima semua berita dan penawaran terbaru kami yang dikirimkan langsung ke email Anda.